Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

7 TIPE GURU YANG PALING DISUKAI MURID, TERUTAMA NOMER 4 DAN 5

Assalamu'alaikum wr.wb. selamat pagi dan salam sejahtera untuk guru-guru seluruh indonesia dimanapun anda berada....
sangat penting untuk diketahui berikut adalah informasi terbaru infokemendikbud.com tentang Tipe-Tipe Guru yang Disukai Murid.

Sabtu, 20 Mei 2017

Karakter yang Bisa Membuat Guru Jadi Profesional


Guru yang mengajar di kelas dari hari ke hari memiliki dua ujung sebagai perjalanan kariernya. Ujung yang pertama adalah rutinitas, artinya guru itu akan jadi orang yang pasif, terjebak rutinitas, cenderung bekerja demi harapkan gaji dan tunjangan di akhir bulan. Ujung kedua adalah guru semakin cinta pada profesi dan terus meningkatkan diri serta merasa hidupnya ‘berkah’ karena mengajar dan menyebarkan ilmu.

Pasti semua dari kita ingin menjadi guru yang menemui ujung kedua seperti di atas. Untuk sampai ke sana tidak bisa tidak seorang guru membutuhkan karakter. Sebuah karakter yang memang tidak mudah untuk dipraktekkan serta berhubungan dengan banyak faktor lain. Karakter apa saja yang bisa membuat seorang guru menjadi profesional? setidaknya ada 5 karakter guru yang profesional.

Jumat, 19 Mei 2017

15 TEKNIK MENGAJAR PADA PERTEMUAN PERTAMA

Bagi seorang guru, lama atau baru, hari pertama mengajar biasanya mendatangkan aneka rasa. Ya tegang, antusias, atau harap-harap cemas. Bagaimanapun, kita akan “berkarier solo” di kelas, mengendalikan para murid. Tak ada teman satu geng, orang tua, pasangan, guru pendamping, atau mungkin fans, jika punya.

Banyak orang bilang, pertemuan pertama itu akan menentukan kesan selanjutnya. Tak heran persiapan kita untuk hari perdana itu musti pol-polan. Namun kalau terlalu tertekan, enggak baik juga. Kita bisa grogi dan stress sendiri.

Penampilan luar diri sendiri, checked. Silabus atau RPP, checked. Buku atau bahan ajar, checked. Alat mengajar, checked. Hampir yang kita persiapkan sudah dicek dan siap. Tapi perasaan khawatir atau deg-degan itu masih menyisa. Parahnya lagi, emang ada pilihan lain selain menghadapinya?

Karena itu, kita diskusikan ya, apa saja yang baiknya diperhatikan. Tips atau saran ini bisa berlaku bagi guru baru, guru PPL, atau mungkin guru lama yang menghadapi murid-murid baru. Jom!

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kenaikan Pangkat Guru Tidak Ada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Lagi

Kenaikan Pangkat Guru Tidak Ada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Lagi

Mendikbud baru memiliki gebrakan yang sangat signifikaan, dihadapan kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia, Mendikbud Prof. Muhadjir Effendy, MAP menyampaikan point-point perubahan baru pada era kepemimpinan nya. hal tersebut secara cepat disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabalong melalui akun media sosial nya, perihal hasil rapat yang tentu saja sontak membuat kaget para guru.

Selasa, 27 September 2016

12 Alasan Finlandia Pendidikannya Terbaik Sedunia

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, Muhadjir Effendy tentang konsep full day school menuai banyak pro kontra. Menurut mendikbud wacana itu bertujuan untuk mengembangkan karakter anak, sehingga terhindar dari kegiatan-kegiatan tidak penting sepulang sekolah dan agar orangtua bisa mengawasi anaknya tepat waktu.

Senin, 27 Juni 2016

BUAT GURU, BERIKUT SEJUMLAH METODE MENGAJAR SUKSES ALA RASULULLAH SAW

Guru merupakan salah satu profesi yang mulia, karena tugas dan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa. Ditangan para gurulah generasi-generasi yang berkualitas dilahirkan.

Sukses menjadi guru tak semata-mata karena menenteng ijazah dari fakultas keguruan atau mendapat sertifikasi profesional. Guru keren di mata dan hati siswa juga beken dan dijadikan favorit karena metode mengajar asyik dan menarik. Mau tahu 20 metode mengajar yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW ?

Minggu, 12 Juni 2016

CARA MENGAJAR INI MEMBUAT SISWA JADI CERDAS MENURUT PROF. JHON LOUGHRAN

Dulu, kita mengenal sistem pendidikan satu arah. Guru menerangkan di depan kelas, sementara siswa harus tertib mendengarkan dan mencatat penjelasan tersebut.

Nyatanya, metode ini tidak lagi ampuh menunjang keberhasilan pendidikan. Sebaliknya, pendidikan perlu melibatkan berbagai peran aktif sejumlah pihak, seperti pengajar maupun peserta didik.

Rabu, 08 Juni 2016

Orang Tua dan Guru Tak Boleh Alergi Digitalisasi

JAKARTA--Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menilai tantangan dunia pendidikan sudah berubah. Kini yang jadi tantangan terbesar adalah bagaimana mendidik orang tua dan guru dalam menerapkan literasi digital kepada anak.‎ 

Jumat, 29 April 2016

GURU-GURU AKAN DIBERIKAN PELATIHAN ICT AGAR GURU BEBAS GAPTEK


Information communication technology (ICT) sedang merasuk ke berbagai bidang, tidak terkecuali pendidikan. Berbagai pelatihan guna menunjang kemampuan ICT pendidik dan tenaga kependidikan pun gencar digelar.

Di Indonesia, fokus pelatihan ICT bagi para guru adalah memastikan para guru memiliki level yang sama dalam pemahaman tentang ICT. Education Lead Microsoft Indonesia Benny Kusuma memaparkan, secara umum para guru Indonesia punya passion untuk berubah dan memanfaatkan teknologi dalam di ruang kelas.

Kamis, 28 April 2016

Gerakan Literasi Digital di Sekolah Bisa di Mulai dari Sekolah Dasar.


Gerakan Literasi Digital di Sekolah Bisa di Mulai dari Sekolah Dasar.
Oleh : Dani Drc
Kesekretariatan PGRI Kota Sukabumi (Bidang IT dan Kenakalan Remaja)

1. Pengertian Gerakan Literasi
Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).
Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.
Gerakan Literasi di Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Gerakan Literasi di Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif.
Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan Gerakan Literasi Sekolah dapat diketahui dan terus-menerus dikembangkan. Gerakan Literasi Sekolah diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.

3. Lietarasi Bukan Cuma Baca Tulis
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.
Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.      Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
b.      Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
c.       Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
d.      Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
e.      Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam prak- tiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
f.        Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benarbenar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.


3. Gerakan Literasi Digital di Kelas
Kegiatan Literasi Sekolah sekarang sudah mulai bergeser dari literasi baca tulis konvensional dengan menggunakan media cetak ke media elektronik yang lazim disebut literasi Digital.
Sebagai contoh penulis yang mengajar di Sekolah dasar kelas tinggi sudah membiasakan anak didiknya yang membawa smartphone dengan memberi tugas yang bisa dicari sumbernya dari digital yaitu dengan mengakses google. Soal yang diberikan dijawab dengan menggunakan aplikasi quiper atau menjawab di Grup WA (Whatsup) yang telah dibuat sebelumnya.

Pemberian tugas dan kegiatan literasi digital ini dilakukan selain untuk menghemat penggunaan kertas yang bisa mengganggu lingkungan hidup karena penggunaan kertas bisa diganti ke bentuk digital, juga untuk mengalihkan perhatian anak yang membawa Smartphone dari kebiasaan bermain game di gadgetnya ke kegiatan browsing (mencari) jawaban dari persoalan yang yang diberikan guru yang disesuaikan dengan Jadwal pelajaran,Tema-Sub Tema-pembelajaran waktu itu. 

SIA-SIA DIGAJI JUTAAN, KALAU GURUNYA MASIH GAPTEK !


Kritikan pedas dilontarkan pengamat pendidikan Indra Charismiadji terhadap kualitas guru di Indonesia. Menurut dia, guru-guru di Indonesia mayoritas (maaf) berkualitas rendah. Sedangkan yang berkualitas menengah sampai tinggi hanya sekitar 10 persen.

"Bagaimana pendidikan di Indonesia bisa bagus kalau tenaga pendidiknya kompetensinya rendah. Lembaga-lembaga internasional menempatkan kualitas pendidikan Indonesia rata-rata rangking dua dari bawah," ujar Indra dalam sebuah seminar nasional pendidikan, Selasa (26/4).

Anehnya, kata In‎dra, seluruh guru ramai-ramai meminta kenaikan gaji serta tunjangan dengan alasan memuliakan tenaga pendidik. Sejumlah daerah, malah memberikan tunjangan yang fantastis. Di DKI Jakarta, misalnya, gaji dan tunjangan guru mencapai Rp 18 juta

'Helvetica Neue', Helvetica, Tahoma, 'Nimbus Sans L', sans-serif; font-size: 15px; line-height: 22.5px; text-align: justify;"> 
"Guru di DKI dibayarkan Rp 18 juta, angka yang cukup tinggi. Yang jadi pertanyaan, layakkah mereka mendapatkan gaji setinggi itu? Sementara dari data banyak guru DKI yang tidak tahu soal komputer," sergahnya.

Lanjut Indra, bila gurunya gagap teknologi alias gaptek, bagai‎mana bisa mengajarkan siswa generasi abad 21. Itu artinya, pemerintah sia-sia mengeluarkan dana ratusan juta untuk bayar gaji dan tunjangan guru.

"Saya selaku pembayar pajak, jelas tidak rela karena dana yang kita bayarkan diplotkan ‎kepada guru-guru tidak berkualitas. Kalau guru-guru kita berkompetensi tinggi, saya yang akan mencarikan sekolah internasional bagi mereka dan dibayar tinggi," tandasnya.

Kamis, 17 Maret 2016

BELAJAR MENDIDIK ANAK DARI YAHUDI


Yahudi sebagai sebuah bangsa digdaya di akhir zaman seperti ini, memiliki sebuah kunci “keberhasilan” dalam menjalankan misinya. Rumus mereka terletak dalam hal pendidikan.

Yahudi sadar betul bahwa penanaman nilai-niai Yahudi adalah kunci dalam mengokohkan indentitas diri mereka. Ya sebuah bangsa kecil yang menjadi besar dan memiliki arti penting dalam menguasai dunia saat ini.

Senin, 14 Maret 2016

65 MODEL PEMBELAJARAN


Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.

MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN


MetodolOgi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.

Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar.

Sabtu, 12 Maret 2016

20 METODE MENGAJAR AGAR JADI GURU 'KEREN DAN BEKEN' MENURUT ( DR. M. SYAFII ANTONIO, M.EC )


Sukses menjadi guru tak semata-mata karena menenteng ijazah dari fakultas keguruan atau mendapat sertifikasi profesional. Guru keren di mata dan hati siswa juga beken dan dijadikan favorit karena metode mengajar asyik dan menarik. Mau tahu 20 metode mengajar yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW ?

Selasa, 08 Maret 2016

KEBIASAAN KESALAHAN GURU DALAM MENDIDIK SISWA

Guru merupakan propesi yang sangat mulia, karena ada dua tugas berat yang mereka  emban  dan itu tidaklah mudah yaitu mengajar dan mendidik. Banyak guru yang sukses dalam mengajar namun gagal total dalam mendidik, dikarenakan berdasarkan fakta demikian Mendidik jauh lebih sulit dari pada mengajar.

Kesalahan dari orang tua adalah menyerahkan pendidikan terhadap anak sepenuhnya kepada guru di sekolah tanpa berfikir untuk mendidik anak di rumah. ini merupakan kesalahan besar. karena guru di sekolah itu tidak hanya mengayomi 1-10 anak, ada banyak anak yang harus diurus. waktu yang tidak cukup pada jam sekolah ditambah lagi guru ada kegiatan lain baik dari pemerintahan atau program sekolah.

10 TEKNIK MENGELOLA KELAS


Saat menghadapi murid yang usianya masih kecil (misal, SD) pasti kita banyak menghadapi kendala. Mulai dari siswa yang ribut, susah diatur, suka lari-lari di kelas, dan lain-lain berbeda sekali dengan menghadapi siswa di SMP atau SMA. Mereka biasanya sudah mengerti untuk tetap tertib dan memperhatikan guru. Young learner (kelas rendah) biasanya masih mempunyai fokus perhatian yang cenderung rendah. Mereka tidak bisa lama-lama fokus terhadap suatu hal, karena perhatiannya akan mudah “buyar”. Maka sebagai guru sebaiknya kita mempunyai teknik tersendiri untuk mengontrol kelas. Caroline Linse mengemukakan ada 10 teknik yang bisa kita jadikan referensi.

Senin, 07 Maret 2016

5 Alasan Mengapa Ibu Guru/Mahasiswi Jurusan Keguruan Layak Jadi Calon Istri Idaman!

Memasuki usia yang sudah matang atau bisa dikatakan usia dewasa adalah bukan waktunya untuk bermain-main lagi. Yakni usia yang berkisar 20 atau 20-an ke atas. Pada usia ini kita tentu sudah berpikir ke depan dan mulai merancang hidup yang lebih terarah. Bukan seperti dulu yang hanya suka main dan senang-senag saja tanpa memikirkan langkah kedepan. Saat ini mau tidak mau kita mulai memikirkan segala sesuatu dengan lebih serius dan mampu mempertimbagkan banyak hal. Termasuk tentang pasangan hidup. Tidak jamannya lagi kita memaknai cinta dengan main-main, hanya sekedar suka sama suka tanpa ada arah atau orientasi ke depan.

Cinta yang kita maknai saat ini adalah perasaan yang harus dituntaskan dalam sebuah ikatan. Dimana ia harus dilandasi tanggungjawab dan dilalui dengan penerimaan dan pengertian. Nah, bagi kaum pria, kamu patut memilih sosok wanita yang baik tentunya, tidak hanya memandang fisik tapi juga kecantikan hatinya. Kamu perlu tahu bahwa calon istri yang layak kamu idam-idamkan adalah mereka wanita yang akan menjadi guru atau mungkin saat ini masih duduk di bangku kuliah jurusan keguruan. Bahkan bisa mereka adalah wanita yang telah menjadi guru. Mengapa? Mari kita simak ulasan berikut.

1. Dia Memiliki Jiwa Keibuan
Menjadi seorang guru tentu setiap hari berinteraksi dengan para peserta didiknya. Adalah hal yang semestinya terjadi, dia terbiasa berkomunikasi dan membangun chemistry dengan anak didiknya.
Disadari atau tidak sosok guru setiap harinya berusaha tahu bagaimana menghadapi anak.
Mereka akan tahu bagaimana tumbuh kembang anak, mengatasi kenakalan anak-anak dan mencari cara untuk mengatasinya.

Para anak didiknya sudah seperti anaknya sendiri, jadi dia tahu benar bagaimana anak-anak itu. Maka dari itu biasanya wanita ini memiliki jiwa keibuan.

2. Dia Memiliki Attitude yang Mengesankan

Kita tahu bahwa guru dituntut untuk bisa mengajarkan ilmu kepada anak-anak. Selain itu yang terpenting mereka juga diharuskan bisa mendidik para siswanya.
Maka dari itu ia harus bisa menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual kepada anak didiknya.
Banyak hal yang bisa ia ajarkan dan contohkan, selain mata pelajaran yangd iajarkan ia juga mengajarkan tentang kerapian, sopan santun keberanian, dan disiplin.
Bagaimana menurutmu? Sosok wanita ini tentu tahu bagaimana harus menjaga sikap. Maka tidak heran jika dia terlihat anggun dan hangat.

3. Dia Mampu Mendidik Siswanya Apalagi Anaknya Sendiri
Semakin menarik! Bisa kamu bayangkan, dia bisa mendidik anak didiknya dengan tulus dan telaten, apalagi anaknya sendiri.
So, tidak diragukan lagi, wanita ini tahu bagaimana caranya mendidik anak. Tidak salah jika kamu mengidam-idamkan wanita seorang guru menjad istrimu.

4. Kebiasaannya Menerangkan Membuatnya Terampil Bicara
Add caption
Seperti ‘makanan’ sehari-hari, guru memang harus bisa berbicara dan menerangkan berbagai ilmu di depan siswanya.
Karena kebiasaan inilah dia tentu memiliki keterampilan berbicara yang menarik. Sosok wanita ini nyaman untuk diajak bicara dan mencurahkan isi hati.

5. Tidak Terlalu Sibuk, Kamu Memiliki Banyak Waktu Dengann...

Mempunyai istri guru tidak usah khawati. Ya, mungkin dia adala wanita pekerja. Namun dia tidak terlalu sibuk dengan urusan kerjanya.
Anak-anakmu masih bisa terurus dengan sangat baik, mereka tidak akan kekuranngan perhatian dan kasih sayangnya.
Dia masih sempat membuatkan secangkir teh hangat di pagi hari untukmu.
Menyiapkan sarapan dan menemanimu sarapan pagi. Waktu kamu pulang kerja wanita ini dengan hangat menyambutmu di rumah.
Nah, wanita yang berprofesi sebagai guru memang calon istri idaman sekaligus ibu yang baik
[tandapagar.com]








Jumat, 19 Februari 2016

Kesalahan-Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru


Dalam praktek pendidikan sehari-hari, masih banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam menunaikan tugas dan fungsinya. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak sadari oleh para guru, bahkan masih banyak diantaraya yang menganggap hal biasa. 

Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam pembelajaran akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai manusia biasa, tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan baik dalam melaksanakan tugas pokok mengajar. 

Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan. Berikut kesalahan yang sering dilakukan guru menurut E. Mulyasa dalam bukunya, Menjadi Guru Profesional:

1. Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran

Tugas guru paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Berbagai kasus menunjukan bahwa diatara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukan alasan yang mendasari asumsi itu.

Untuk menghindari hal itu, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu sistem, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka akan menggangu seluruh sistem tersebut. Sebagai contoh, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melakukan kegiatan pembelajaran, serta merevisi sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan perkembangan zamannya.

Harus selalu diingat mengajar tampa persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya, yang dapat merugikan perkembangan peserta didik, dan mengancam kenyamanan guru.

2. Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif

Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif , sebaliknya perhatian yang negatif akan menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan.

Guru perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukan oleh para peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas prilaku tersebut dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana, tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan member hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kelompok maupun individual.

Menghargai perilaku peserta didik yang postif sungguh memmberikan hasil nyata. Sangat efektif jika pujian guru langsung diarahkan kepada perilaku khusus dari pada hanya diekspresikan dengan pernyataan positif yang sifatnya sangat umum. Sangat efektif guru berkata “terimakasih kalian telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh” daripada “kalian sangat baik hari ini”.

3. Menggunakan Destructive Disclipline

Akhir-akhir ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik. Demikian halnya dengan pembelajaran, guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melakukan tindakan disiplin.

Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang diperbuat, tidak jarang guru memberikan hukuman diluar batas kewajaran pendidikan, dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.

Agar guru tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu. Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang. Hindari menghina dan mengejek peserta didik dan pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat.

4. Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik

Kesalahan berikutnya yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita semua mengetahui setiap peserta didik memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. 

Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang social ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas, intelegensi, dan kompetensinya.

Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi ciri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.

5. Merasa Paling Pandai

Kesalahan lain yang sering dilakukan guru adalah merasa paling pandai dikelas. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik di sekolahnya relatif lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dibanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. 

Dalam kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya. Dengan demikian peserta didik yang belajar mungkin saja lebih pandai daripada guru. 

Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan disebut guru ortodok.

Sumber: Link Ini

Share

Komentar

Selamat Datang

1

2

3

Pengunjung

Flag Counter

SMS Gratis


Make Widget