Rabu, 30 Agustus 2017

Guru Honorer, TPG dan Pendidikan Karakter


Sungguh luar biasa ketika Ketua Umum PB PGRI Dr Unifah Rosyidi menjadi nara sumber pleno kajian pendidikan di gedung Nusantara V DPR MPR RI tanggal 29 Agustus 2017. Diantaranya Ia menjelaskan dengan fakta dan tegas tentang realitas guru honorer, masalah TPG plus masalah transformasi pendidikan karakter. Ia menjelaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter peserta didik dan betapa pentingya para guru honorer untuk segera di PNS kan. Mengingat rasio guru PNS dan siswa masih sangat jauh.



Puluhan anggota DPR MPR RI yang terdiri dari para pakar, mantan menteri, mantan dirjen dan puluhan profesor yang menjadi pendengar menyimak dengan serius apa yang disampaikan Ketua Umum PB PGRI. Bahkan setelah selesai memaparkan banyak sekali yang memberi dukungan dan apresiasi pada PGRI. Nampak Ketua Umum PB PGRI lebih mendapat perhatian dari audien dibanding dua nara sumber lainnya yakni Dirjen Dikti dan Dirjen Pend. Dsar dan menengah.


Dr Unifah Rosyidi menjelaskan bahwa PGRI selalu menjadi bagian dari perubahan dan mendukung pemerintah. Ia menjelaskan kita ini kekurangan guru PNS maka segera para honorer di PNS kan karena akan “berbahaya” bagi dunia pendidikan kita bila suatu saat para guru PNS sangat sedikit. Guru honorer selama ini telah sangat berjasa membantu pemerintah dalam mensukseskan tujuan pendidikan nasional.
Sungguh terharu mendengar Ketua Umum PB PGRI yang menjelaskan kasus guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun di daerah perbatasan. Ia menjelaskan guru honorer di perbatasan realitasnya sangat menyedihkan. Secara fisik seorang guru honorer yang jari-jari kakinya mengembang dan meregang. Karena di daerah terluar sang guru honorer tidak dapat menggunakan sepatu. Jalan setapak, lumpur licin hampir setiap hari disebrangi. Tak mungkin pakai sendal atau pakai sepatu. Nyeker, kaki telanjang adalah kesehariannya.


Realitas guru honorer yang “bermimpi” jadi guru PNS terutama di daerah pedalaman sungguh harus mendapat perhatian pemerintah. Bila tidak maka negara dianggap tidak hadir pada “penderitaan” guru-guru honorer. Bila negara tak hadir maka dimungkinkan pelayanan pendidikan terbaik tidak akan didapatkan oleh para peserta didik. Guru yang menderita dan jauh dari sejahtera sulit bertahan untuk menjadi guru yang ideal.


Bisa jadi seorang guru yang puluhan tahun mengabdi akhirnya lelah dan putus harapan. Bukan lagi memikirkan masa depan negara dan bangsa melalui peserta didiknya melainkan bagaimana memikirkan nafkah dihari esok bagi keluarganya. Seorang yang idealis mendidik bila dalam waktu yang terlalu lalam “menderita kesejahteraan” sangat berisiko untuk terkulai lemas dan apatis.


Dr Unifah Rosyidi sungguh indah saat memaparkan pentingnya guru-guru honorer untuk diperhatikan nasibnya. Alternatifnya di PNS kan, di PPPK kan dan di UMK kan, ini demi masa depan pendidikan Indonesia ditengah kemajuan bangsa lain yang sebagian sudah tidak bermasalah dengan para gurunya. Bila para guru Indonesia masih bermasalah mana mungkin dunia pendidikan kita akan cepat membaik. Mengingat strategisnya posisi guru dalam pembangun pendidikan.


Bisa jadi guru yang tadinya idealis bila terlalu lama “menderita” bisa “terpapar” apatisme dan terkulai lemas ditengah dinamika carut-marut pengelolaan pendidikan. Dr Unifah telah menyampaikan hasil serapan dilapangan tentang berbagai derita guru bahkan Ia menjelaskan guru-guru TPG nya masih banyak yang bermasalah. TPG yang didapatkan per triwulan kadang terlambat dan tak utuh.
Pemerintah, dan pihak lain harus paham bahwa TPG yang didapatkan sebagain para guru sangatlah bermanfaat bagi pengembangan profesi guru dan keluarganya. Bukankah para guru harus menyekolahkan putra-putrinya. Bukankah putra-putri guru harus mendapatkan pendidikan yang baik. Bolehkan anak guru menjadi sarjana, dapat kuliah. Boleh kan guru memiliki motor bahkan kendaraan roda empat? Jangan sampai para guru dicurigai sebagai komunitas yang hanya memboroskan anggaran negara karena adanya TPG.


Guru menurut Dr Unifah Rosyidi adalah kekuatan moral intelektual yang harus mendapatkan perhatian khusus. Selamatkan guru-gurunya maka guru-guru akan dapat mengemban amanah untuk menyelamatkan generasi muda kita. Bukankah masa depan generasi muda kita ada ditangan para guru setiap harinya? Tulisan ini adalah apresiasi dan kagum pada Ketua Umum PB PGRI yang “guru banget” dalam memperjuangkan seluruh guru Indonesia.


Srikandi PGRI telah menusuk jantung DPR MPR RI yang terdiri dari mantan para menteri, mantan dirjen, para tokoh nasional dan puluhan profesor. Memaparkan pendidikan karakter, nasib honorer dan permaslahan TPG, Sungguh indah melihatnya. Selamat berjuang Ibu Ketua Umum, semoga sehat, sejahtera dan tabah dalam menghadapi “penderitaan” memperjuangkan para guru. Terharu kami melihatnya. Takbir! DNK 30 Agustus 2017

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Tidak ada komentar:

Share

Komentar

Selamat Datang

1

2

3

Pengunjung

Flag Counter

SMS Gratis


Make Widget