Jumat, 30 November 2012

Kejayaan Nusantara Segera Kembali


Masyarakat semakin gundah atas apa yang terjadi di negeri ini tetapi ketahuilah bahwa penderitaan berkahir dengan kebahagian dan kebahagian berakhir dengan penderitaan, orang bijak tidak bersedih hati dikala duka, tidak bersenang-senang dikala bahagia. Ling ning sanghyang aji; demikianlah tersebut didalam kitab suci.

Meski dunia terasa amat kacau hendaklah selalu eling lan wospodo, biarlah orang gila tetap gila, gila harta, gila kekuasaan, gila wanita. Jangan ikut-ikutan menjadi orang gila.
Gate soko na kartavyo, Bhavisyam naiva cintayet
Vartamanena kalena, Pravartante vicaksanah.
(Canakya Nitisastra 8.2)
Artinya : Jangan bersedih terhadap apa yang sudah berlalu, jangan pula risau terhadap apa yang akan datang, orang-orang bijaksana hanya melihat masa sekarang dan berusaha sebaik-baiknya.
Kembalinya kejayaan Nusantara dipimpin oleh pemimpin yang agamawan bersandaran pada perintah Tuhan, didalam ramaln disebut SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Yang Maha Kuasa. Dengan selalu bersandar hanya kepada Yang Maha Kuasa, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.
Satria Pinandita Sinisihin Wahyu(memasuki zaman Alus=pada zaman ini,orang sudah tidak memikirkan kebendaan atau keduniawian,ucapan satria pinandita menjadi kenyataan atau seperti legenda. Hal itu dapa ditelusuri melalui serat dan jangka tanah Jawa sebagai berikut:
Serat Dharmo Gandhul:
1. “Ya iku tengeranira, Nayagenggong bali mring tanah Jawi, anggawa momonganipun, mata siji kang wignya, wani lungguh anjajari maring ingsun, tan wruh asal sobat kenal, yen nakal binuwang tebih. Tyasira angkara murka, kumet loma krenah pitenah dadi, dana kawruh dana laku, mrih arja tanah Jawa. Wong Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam benjing, aganti agama kawruh.” ki aGOeng—> Parikshit.
“Kedatangan kembali Nayagenggong dan diamat-amati Sabdapalon dari luar ke Jawa membawa momongannya yang tercerahkan batinnya, mumpuni pengetahuannya, tidak mempersoalkan asal teman yang dikenal, orang yang nakal dibuang, wataknya keras angkara murka, kikir/perhitungan juga dermawan, semua perbuatan dilakoni termasuk memfitnah. Mendanakan ilmu dan laku untuk membuat tanah Jawa sempurna. Di saat itulah banyak orang Jawa meninggalkan agama Islam pindah ke agama kawruh.”
2. “Yen wonten manusa Jawa, Jawi angangge mripat siji, ora nganggo mata loro, nami sepuh gaman kawruh, niku momongan-kula, tiyang Jawan sun-wruhke bener lan luput.” —> dewantoRO (pemuda jawa) – Sutasoma, anak Pandawa yang mati di kemah.
“Kalau suatu saat di kemudian hari akan ada orang Jawa, Jawi bermata satu memakai nama tua bersenjatakan kawruh itu adalah asuhan Ki Sabdapalon, dan melalui orang itu Ki Sabdapalon akan mengajarkan dan menunjukkan benar dan salah kepada orang-orang Jawa.”
Serat Yasadipura:
“Perang, bencana, lan sapanunggalane
Kabeh tedak ing negeri iki
Iki kang kinaran Pendhawa Boyong
Tukule Pari Kesit
Tan busana narendra utawa ksatrian prajurit”
Saat jaman goro-goro terjadi, 5 kekuatan pandawa masuk ke tubuh satu orang yang mampu menampung semuanya, yaitu parikesit.
1. “bukan pendeta tapi disebut pendeta (yudhistira)”
2. “berjalan kebarat berguru pada dewaruci (bima)”
3. “putra indra (arjuna) yang paling sulung”.
4. “menguasai apasaja ilmu (nakula-sadewa).”
5. “naiknya parikesit” yang naik jadi ratu adil adalah parikshit.
Kemunculan satria pininandhita sinisihan wahyu tak lepas dari sejarah nusantara ini. berabad-abad yang lalu telah terjadi suatu perjanjian dimana selama 500 tahun akan menjadi tahun kebangkitan islam namun setelah itu bangsa ini akan dikembalikan lagi pada ajaran lama.
Namun sayangnya kedatangan ajaran ini dan sekaligus proses pendalamannya akan banyak memakan korban jiwa, oleh karena memang sudah disebutkan dalam perjanjian bahwa jika ajaran ini tidak diterima maka akan dibinasakanlah bagi yang tidak mau menerima ajaran tersebut.
Maka tidak mengherankan bahwasanya banyak paranormal yang menyebutkan nantinya penduduk indonesia tinggal sekitar setengahnya saja. sungguh sangat memilukan dimana dalam proses kebangkitan bangsa ini diwarnai dengan banyak tragedi kemanusiaan.
Nah pada akhirnya sang penyelamat inilah yang nantinya akan hadir di saat bangsa ini memang benar-benar memerlukan pertolongan. namun kita juga harus bisa mempersiapkan diri jangan hanya berpangku tangan pada satu orang saja. Alangkah baiknya bila nanti yang ditunggu–tunggu sudah datang, kita bisa membantu dari belakang.
Leluhur negeri lain sebelum Indonesia memang pernah meramalkan bila di Indonesia kelak akan terjadi perang besar yang membawa Indonesia menuju kiamat. Terkait dengan Indonesia, maka kiamat dapat diartikan sebagai berakhirnya kehidupan di Indonesia karena mengalami kehancuran. Saat ini negara Indonesia bisa tegak berdiri karena ditopang oleh sisitem yang bekerja dengan baik di negri ini baik itu sistem dalam pemerintahannya maupun sisitem dalam masyarakatnya dan sistem-sistem lainnya bekerja.
Apabila sistem-sistem yang menopang negri ini rusak bahkan macet total, maka yang pasti akan terjadi yaitu adanya kekacauan dimana-mana sehingga memicu amarah rakyat Indonesia. Apabila amarah rakyat tidak segera diatasi maka dapat meluas hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Hasilnya kekacauan pada semua sistem di setiap wilayah akan terjadi dan Indonesia perlahan-lahan akan menemui kehancuran yang nyata.
Jangka jayabaya sabda gaib babon asli kagungan dalem bandara Pangeran Harya Suryanegara Ing Ngayugyakarta:
1. sasampune hardi merapi ,gung kobar saking dahara sigar tengahira kadi lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pasisir Myang amblese glacapgunung
2. sarta ing madura nagari meh ghatuk lan Surabaya
3. sabibaripun tumuli, wiwit dahuru lonlona saya lami saya ndadi Temah peperangan agung
4. rurusuh mratah sabumi
5. montang manting rebut urip
6. Papati atumpuk undung
7. desa desa morat marit
8. kutha kutha karusakan
Terjemahnya kurang lebih:
1. Gunung Merapi mengeluarkan lahar ke selatan dan timur
2. Madura dan Surabaya hampir menyatu (Jembatan Suramadu)
3. Setelah itu terjadilah perang besar
4. Kerusuhan merata di seluruh wilayah Indonesia
5. Susah payah menyelamatkan diri
6. Kematian bertumpuk-tumpuk
7. Desa-desa hancur-hancuran
8. Kota-kota terjadi kerusakan
Untuk nomor 1 dan 2 telah terjadi. Karena ada yang telah terjadi maka tinggal menunggu waktu untuk peristiwa selanjutnya yaitu akan terjadi perang agung merata di seluruh wilayah Nusantara.
Serat Centhini:
Prabu Parikshit Satria Pinandhita sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya). Satria Pinandhita memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.
Sejak masih di dlm kandungan rahim ibu, badan halus/ruhnya, sudah digembleng oleh para leluhur eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara. Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau hingga lulus semuanya karena terlalu sederhana. Keluhuran budipekerti Satria Pinandhita diperoleh dari kakeknya Drona yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan.
Juga dikatakan satria pinandhita itu punya 2 saudara satu pria satu wanita. saya punya dua saudara, kelahirankembali walangsungsang dan rara santang.
Kedua saudara saya tidak tertarik mengurusi kepemerintahan secara mendalam, keduanya ada pekerjaan masing-masing sebagai bisnisman dan kepala keperawatan. sesuai bait dalam serat centhini “yang satu jenius” yang satu lagi “berbakat dalam bidang medis”.
Syair Raja Samagama:
5 lapis praktek religius:
Lapis luar (kulit): Berusaha tak jahat.
Lapis bagian dalam: Berusaha maju.
Lapis lebih dalam: Tantra (tehnik-tehnik terbaik dalam hidup)
Lapis terdalam: Meditasi.
Tanpa lapis: Kosong.
Untuk bisa menciptakan pikiran yang tanpa jeda dari kebaikan, SP masuk ke lapis lebih dalam yaitu berusaha maju. Menjadi “raja yang tak batal wudhu.”
Tapi saat ia naik tahta, ia berada di lapis “Tantra” sebagai satria pinandhita sinisihan wahyu, memimpin negara sekaligus mengajar agama. Dan saat ia sendiri, ia tentu tenggelam dalam lapis meditasi. Tapi ia belum bisa ke lapis terakhir yaitu tanpa lapis, karena ia masih di dunia, jadi masih perlu memakai “isi”.
Ronggowarsito:
- “Nuli sinalinan mulyaning panjenengan Nata ing kono harjaning tanah Jawa ; wus ilang memalaning bumi, amarga sinapih tekaning Ratu Ginaib, wijiling utama den arani Ratu Amisan, karana luwih dama miskin.” (Kemudian diganti (zaman) kemuliaan Sri Raja dan kesejahteraan tanah Jawa ; sudah hilang penyakitnya dunia, karena datangnya Raja yang digaibkan, keturunan golongan mulia, diberi julukan “Raja semua golongan”, karena bermurah hati kepada (golongan) miskin.)
- “Adege tanpa sarat sedawir, ngadam makdum Panjenengan Nata.” (Menjadi pemimpin tanpa perlu lewat pemilu, sebagai Pemimpin Kerohanianlah kedudukan Beliau sebagai Raja.)
- “Kedatone Sonya ruri, tegese sepi tanpa sarana apa-apa ora ana kara-kara.” (Ada satu masa dimana beliau hidup dalam keadaan kurang.)
- “Duk masih kineker dening Pangeran kesampar kesandung akeh wong ketambuhan.” (Saat masih dipingit oleh Buddha, keadaannya masih seperti orang biasa, banyak orang tidak bisa menduga akan menjadi apa.)
- “Karsaning Suksma kinarya buwana balik.” (Kehendak Yang Maha Gaib semuanya dibalikkan. Lemah jadi kuat, biasa jadi sakti, yang orang tak mengira.)
- “Jumeneng Ratu Pinandita, adil paramarta, lumuh mring arta, kasbut “Sultan Herucakra”.” (Menjadi ‘Raja Kerohanian’, adil ramah tamah, tidak mementingkan harta benda, dijuluki “Sultan Herucakra”)
- “Parandene mungsuhe pada rereb sirep kabeh.” (Meskipun begitu musuhnya semuanya agak takut; terhenti semua.)
- “Kang nedya mungsuh kabarubuh.” (Yang hendak memusuhi jatuh.)
- “Tekane sing prau kintir, anake mbok randa kasihan, melas asih mung priyangga.” (Datangnya dengan kapal yang ikut arus (laut), anak janda kasihan pantas dibelaskasihani, hanya sendirian. Ada juga yang menafsirkan arti anak janda kasihan ikut arus adalah si kembar nakula-sadewa, tapi bait-bait yang mendukung mereka kurang banyak dan terlalu kabur, karena itu tetap saja Parikshit yang naik jadi raja.)
Jayabaya:
159. “selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang nyawa bayar nyawa hutang malu dibayar malu”.
- “Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman,” kata Sabdo Palon dulu. Lawang Sapto Ngesthi Aji menunjuk 1978. 4 jaman = 4 x 8 tahun = 32 tahun, jika ditambah 1978 menjadi tahun 2010. “Dan ingatlah kebenaran kata-kata hamba saat Merapi meletus laharnya mengalir ke Yogya“, kata Sabdo Palon dulu. 2010 lalu Merapi meletus dan laharnya ke Yogya, tak ke Magelang sepertibiasanya, karena di Yogyalah berdiam SPnya.
- Muka SP sawomatang, seperti anak-anak, dan mudah menghukum orang. Bertenaga mutiara Trishula Veda di tangan kanannya (sebelum dikeluarkan berwujud senjata). Kemunculannya sebelum tutup 2011 ini.
- Dibantu dua raja lainnya,
Raja Parikshit bertugas menentukan benarsalah, membuat undang-undang, mensweeping masyarakat.
Raja Ashoka bertugas terus memberi tuntunan pada masyarakat dan mengkonsepkan tatadunia baru.
Raja Alexander bertugas menyatukan keberagaman tapi juga meragamkan lagi jika perlu.
- “Perang, bencana, lan sapanunggalane. Kabeh tedak ing negeri iki. Iki kang kinaran Pendhawa Boyong. Tukule Parikesit. Tan busana narendra utawa ksatrian prajurit.” Pandawa Lima (Yudhistira tentang ramalan sp, Bhima tentang agama buddha, Karna tentang tatadunia, Arjuna tentang perang, Nakula Sadewa tentang senjata) sebelumnya sudah banyak bicara disana-sini juga mengasah pikiran, sekarang saat keluarnya Parikshit. Perlu diketahui bahwa kali ini bukan Kaurava yang menjadi lawan tapi kesalahan, pembodohan, dan kemunafikan itulah musuh Negara Katumaya.
- Di jaman saya, segalanya berubah, misalnya jika dijaman Anda yang banyak orang islam kalo dijaman saya yang banyak orang buddhist, indonesia saat ini meminjam tanah majapahit ini harus dikembalikan, kesalahan-kesalahan orang harus dibayar.
161. “Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur sebelah timurnya bengawan berumah seperti Raden Gatotkaca berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda.”
Bait ini menggambarkan dunungane, keberadaan orang yang jadi sp itu besok munculnya ternyata dia berasal dari sebelah timur gunung lawu. Ditimurnya lagi ada sungai. Jadi orang yang jadi sp itu berasal antara gunung lawu dan sungai brantas.
161. “Banyak orang digigit nyamuk mati, banyak orang digigit semut mati, banyak suara aneh tanpa rupa, pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa azimat.”
Banyak orang langsung lemas mendengar nama SP disebut, tak mau salah berbuat. Orang sakithati dikritik SP. Pandawa dan Parikshit membuat blog, berbicara dengan memanfaatkan internet. Jin-jin di belakang orang-orang lalu kompak mendukung SP. Kebijakannya benar, bijak, cinta. Yang diasuh bukannya berdamai tapi memang khusus untuk perang. Tiap orang seperti SP, perang tanpa mengajak teman dan tanpa jimat.
163. “bergelar pangeran perang, kelihatan berpakaian kurang pantas, namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak, yang menyembah arca terlentang cina ingat suhu-suhunya dan mendapat perintah, lalu melompat ketakutan”.
Karena setiap ada masalah selalu terpecahkan, SP lalu dipanggil Pangeran Perang. Pakaiannya biasa saja, tapi bisa mengatasi masalah orang. Umat buddhist lalu pergi ke Cina karena takut menjadi korban penyebaran Agama Buddhi oleh SP.
164. “putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti menguasai seluruh ajaran (ngelmu) memotong tanah Jawa kedua kali mengerahkan jin dan setan seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.”
SP masih ada keturunan dari Sunan Lawu. Jika dulu pulau jawa dibabat jadi Islam, sekarang dibabat jadi Buddhi. Dengan bantuan wahyu yang turun padanya, ia (Sabdo Palon) mendirikan Katumaya di pulau Jawa. Didampingi istri-istrinya (Naya Genggong).
165. “tiap bulan Sura sambutlah kumara yang sudah tampak menebus dosa, dihadapkan ke sang Maha Kuasa, masih muda sudah dipanggil orang tua, warisannya Aji Gatotkaca Sejuta”.
Pertamakali dilantik jadi SP adalah pada suro 2010, tepat setelah Merapi meletus. Ia lalu membersihkan diri sehingga ia tak bisa menjadi Buddha, tapi menjadi Jedi, sehingga ia bisa menjadi raja yang baik tanpa harus kehilangan kemampuan seksualnya. Biksu tak bisa jadi raja karena cenderung mengalah, sedang raja yang bukan jedi masih bisa untuk jahat dan semena-mena.
Meski wajahnya seperti anak-anak tapi ia juga dipanggil “orangtua”. Sifatnya murahhati karena suka berbagi ilmu.
Sejak itu, setiap suro ia selalu kemasukan energy Force yang besar sehingga setiap suro ia selalu diberi upeti wanita oleh rakyat Katumaya. Dihadapkan dan ditunjukkan tubuhnya seperti apa.
166. “ludahnya ludah api sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati baik orang tua muda termasuk bayi, orang yang tidak berdaya, minta apa saja pasti terpenuhi, penjadian sabdanya cepat, beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya, tidak mau dihormati orang setanah Jawa tetapi hanya memilih beberapa saja.”
Ucapan SP jika dipercaya yang mempercayainya akan untung sekali, sedang yang meragukannya habis, kadang-kadang sampai satu keluarga. Anakbuahnya cuma sebagian orang jawa saja, lebihbanyak orang dari luar.
168. “oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak berpaman dan bibi, sudah lulus weda Jawa, hanya berpedoman trisula, ujung trisulanya sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan”.
SP punya kebijakan trisula veda dengan memanfaatkan info yang terdapat pada senjata trishula veda. Dalam keadaan damai yang keluar kebijakannnya, dalam keadaan perang yang keluar senjatanya. Dan itu tanda bahwa dia putera batara indera, bahwa dia pemimpin tunggal/raja dunia dan mahluk halus. Siluman seluruh mahluk halus sangat takut dengan pusaka tsb, seandainya sedikit saja tersentuh ujungnya trisula Weda yang paling tengah maka mereka akan musnah. Disetiap ujung trisula weda itu masing-masing merupakan penjelmaan dari dewa.
169. “pantang bila diberi, hati mati dapat terkena kutukan, senang menggoda dan minta secara nista.”
Solusinya segala pemberian harus berupa upeti. Minta secara nista ini bukan pura-pura, karena itulah saya tak tulis bait lengkapnya agar hal ini diperhatikan.
171. “Jangan heran, jangan bingung itulah putranya Batara Indra yang sulung dan masih kuasa mengusir setan, ada manusia yang bisa bertemu tapi ada manusia yang belum saatnya, jangan iri dan kecewa itu bukan waktu anda.”
Prabu Parikshit disebut putra dewa Indra yang paling sulung, karena anak yang paling lama dilatih dari kelahiran demi kelahirannya.
Cepat lambatnya Satria Pinandhita muncul ditengah-tengah masyarakat tergantung cepat-lambatnya terjemahan jangka-jangka pujangga tanah jawa diketahui masyarakat. Semakin cepat jangka diketahui semakin cepat pula Satria Pinandhita muncul.
Satria Pinandhita terdapat dalam jangka, nanti bekerja juga pakai jangka. Sistem ramalan dan bekerjanya juga pakai jangka untuk menata kegiatan-kegiatan di Indonesia dan didunia.
Satrio Pinandhita dan Ratu Adil cuma orang biasa saja, cuma saja selama ini orang-orang tak mengerti jika mereka akan jadi Ratu Adil Satria Pinandhita.
Satrio Pinandhita mengakui dirinya Satria Pinandhita cuma saat memakai topeng. Kejadian seperti ini berlangsung selama beberapa tahun, kemungkinan kurang lebih tiga tahun. Kejadian ini diterangkan dalam jangka pewayangan lampahan “samba sebit”.
Satria Pinandhita disaat memakai topeng hanya membahas jangka tanah jawa. Dalam jangka diceritakan Raden Samba disaat tidak memakai topeng membahas yang sesuai dengan pemikiran masyarakat. Dalam jangka diceritakan ratu yang berbendera klaras (kang selaras). Dalam pewayangan diceritakan Udrayana. Menyampaikan pidato dengan cara kadang bertopeng kadang tidak bertopeng, dengan cara beda penampilan, dalam jangka diceritakan ratu sakembaran.
Serat Sabdo Palon:
“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”
(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang
memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”
(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan.
“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”
(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung
kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.
Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.”
(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya ganti agama itu, agama buddha (atau buddhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)
“Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.“
(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya
hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)
“Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.“
(Lahar tersebut mengalir ke Yogya, tak ke Magelang seperti biasanya. Baunya tak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budda (Budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)
“Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.“
(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)
“Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.“
(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin dipugkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

Share

Komentar

Selamat Datang

1

2

3

Pengunjung

Flag Counter

SMS Gratis


Make Widget